Merelakan Tanpa Pernah Siap

Sejak kepergian Bapak pada Juli 2015, Nande seolah kehilangan sebagian besar kekuatannya. Dulu, meskipun mengidap diabetes, kondisinya masih cukup stabil. Namun setelah Bapak tiada, kesehatannya perlahan merosot, seakan tubuhnya menanggung beban yang lebih berat dari sebelumnya.

Sejak saat itu, tidak ada satu tahun pun yang dilewati tanpa menemani Nande menjalani perawatan di rumah sakit. Bukan hanya penyakit lamanya yang semakin parah, tetapi juga masalah-masalah kesehatan baru yang terus muncul, seakan tak ada habisnya. Setiap kali berharap kondisinya membaik, selalu ada alasan lain yang membawa kami kembali ke rumah sakit.

Sedikit demi sedikit, dunia medis yang dulu terasa asing mulai akrab di telinga. Istilah-istilah yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan kini menjadi bagian dari keseharian. Obat-obatan yang dikonsumsinya pun semakin banyak, bertambah jenisnya seiring waktu, seakan tubuhnya terus berjuang menghadapi tantangan yang tak kunjung usai.

Luka-luka di kakinya muncul begitu saja entah dari mana asalnya, seakan tubuhnya kehilangan daya untuk memulihkan diri. Lalu ada nanah yang menumpuk, melumpuhkan lengan kirinya, membuatnya tak lagi leluasa bergerak. Masalah lambung datang silih berganti, membuatnya sulit makan dengan nyaman. Kanker dan cuci darah pun sempat menghantui, menambah ketakutan yang belum sempat reda. Hingga akhirnya, kesehatan jantungnya pun menuntut tindakan lebih serius—tuntutan pembedahan yang terasa begitu berat untuk dijalani.

Menjalani kewajiban berpuasa sebagai seorang Muslim sering kali diiringi dengan rasa haus dan lapar yang begitu nyata. Namun, seberat apa pun, hanya adzan Maghrib yang menjadi satu-satunya alasan untuk membatalkan puasa. Begitu pula dengan perjalanan panjang merawat Nande.

Bukan anak yang sempurna, kesabaran ini sering kali menipis. Ada begitu banyak mimpi yang ingin digapai, tapi di sisi lain, ada kelelahan yang tak terelakkan—lelah secara fisik, juga lelah melihatnya terus berjuang melawan sakit yang seakan tak memberi jeda. Namun, seperti halnya puasa yang tak akan dibatalkan selain oleh waktu yang telah ditentukan, merawat Nande pun tak akan berhenti oleh apa pun, kecuali ketika Tuhan sendiri memanggilnya kembali.

Dan waktu itu pun tiba. 19 Maret 2025, kurang 2 minggu menuju Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, Allah, Tuhan Semesta Alam, mengambil kembali ibuku untuk selamanya.

Di setiap momen menemaninya di rumah sakit, selalu terlintas dalam benak untuk mendokumentasikan perjalanan medisnya dalam tulisan. Apa yang dikeluhkannya, bagaimana respons dokter yang merawatnya, serta bagaimana kami anak-anaknya, mengelola fisik dan perasaan di tengah ketidakpastian.

Menulis selalu menjadi bentuk katarsis, cara untuk mengolah emosi saat dihadapkan pada kesedihan dan ketakutan yang sulit diungkapkan. Setiap kali melihatnya terbaring lemah, selalu ada ketakutan—apakah ini akan menjadi yang terakhir? Namun, Allah Maha Baik. Ketika kesehatannya membaik, kekhawatiran itu perlahan mereda, begitu pula keinginan untuk mengabadikannya dalam tulisan.

Mungkin, ketika kondisinya membaik, alam bawah sadarku lebih memilih menikmati momen-momen itu sepenuhnya, daripada terus menenggelamkan diri dalam kenangan tentang kesakitannya. Kebahagiaan dan harapanku perlahan menggantikan kebutuhan untuk menuangkan emosi ke dalam kata-kata.

Dan ketika dokter menyatakan bahwa Nande telah tiada, pikiranku seketika melayang ke masa-masa yang telah berlalu. Berusaha mencari kenangan yang bisa menenangkan hati, sesuatu yang bisa membuatku merasa cukup, merasa telah menjadi anak yang baik baginya.

Namun, yang kutemukan justru sebaliknya. Yang tersisa hanyalah rasa sesal—betapa aku bukanlah anak yang cukup baik, betapa mungkin aku belum benar-benar membahagiakannya sebagaimana seharusnya.

Aku pikir, rumah sakit kali ini akan sama seperti sebelumnya. Akan ada masa-masa sulit, tapi pada akhirnya Nande akan kembali sehat dan pulang, seperti yang sudah-sudah. Aku meyakinkan diri bahwa ini hanya ujian lain yang harus dilewati, bahwa masih ada waktu untuk bersama.

Tapi kali ini berbeda. Kali ini memang pulang, tapi bukan dengan senyuman lega atau rasa syukur karena kesembuhan. Kali ini, kepulangannya disambut dengan deraian air mata, dengan hati yang masih ingin berpegang pada harapan, meski kenyataan berkata sebaliknya.

Tidak sekalipun aku akan mempertanyakan kehendak Tuhan, karena aku tahu segalanya ada dalam genggaman-Nya. Namun, dalam doa yang lirih dan penuh rindu, berulang kali aku mengadu,

"Ya Allah… Betapa cepat Kau ambil kembali belahan jiwaku, duniaku, surgaku, rumahku, cita-citaku, tujuanku, pulangku, kebahagiaanku."

Begitu cepat hingga rasanya belum sempat benar-benar siap. Begitu tiba-tiba hingga terasa seperti mimpi yang belum ingin kusudahi.
Aku berusaha keras menata hati, mencoba melanjutkan hidup seperti seharusnya. Diam-diam kususun rencana, mencari cara untuk berjalan tanpa doa ibuku mengiringi setiap langkahku. Tapi semakin aku berusaha, semakin hampa rasanya.

Baju baru yang dulu bisa membuatku bersemangat kini tak lagi terlihat cantik, karena tak ada mata ibuku yang memandangnya dengan bangga. Makanan enak yang biasanya memberi rasa puas kini terasa hambar, karena tak bisa kunikmati bersamanya. Tempat-tempat yang dulu penuh kenangan kini kehilangan keindahannya, karena tak ada dirinya di sana.

Dan ketika orang-orang menunjukkan empati, seharusnya itu menguatkanku. Tapi justru sebaliknya—setiap kata baik, setiap sentuhan lembut, hanya semakin menyadarkanku bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Bahwa kehilangan ini begitu nyata, begitu dalam, dan aku masih terjebak di dalamnya.

Dalam upayaku menghibur diri, aku berbisik pada hatiku sendiri:

"Tidak ada yang bisa benar-benar siap untuk kehilangan sebesar ini, bahkan ketika kita telah menerima kehendak Tuhan. Tidak ada iman yang bisa sepenuhnya menghapus luka rindu, dan itu tidak apa-apa. Tuhan Maha Tahu betapa dalam cintaku pada ibuku, dan Dia juga Maha Mengerti betapa sakitnya hatiku saat ini."

Kesedihan ini tidak akan hilang begitu saja, dan memang tidak harus. Kehilangan sebesar ini tidak perlu segera diredakan atau dilupakan. Namun, di antara tangisan dan doa-doaku, aku berharap suatu hari nanti aku menemukan ketenangan—bukan karena aku telah melupakan, tapi karena aku menyadari bahwa ibuku tidak pernah benar-benar pergi.

Dia tetap ada dalam setiap doa yang kupanjatkan, dalam nilai-nilai yang ia tanamkan dalam diriku, dalam kasih yang telah ia berikan dan kini menjadi bagian dari siapa diriku. Kehadirannya tidak selalu harus dalam bentuk yang terlihat, tapi dalam setiap langkah yang kuambil, dalam setiap kebaikan yang kulakukan, dalam setiap ingatan yang kujaga dengan penuh cinta.

Aku tahu, kata-kata tidak akan pernah bisa sepenuhnya menghapus kehilangan ini. Tapi aku berharap, di dalam doa-doaku, aku menemukan sedikit kelegaan. Maka, izinkan aku berduka, menangis, merindu, dan perlahan-lahan menemukan cara untuk tetap menjalani hidup—sambil membawa cinta ibuku dalam setiap langkah yang kutempuh.

Aku pun sadar, tak ada seorang pun yang benar-benar siap menghadapi perpisahan selamanya. Sebesar apa pun cinta, sekuat apa pun ikatan, perpisahan tetap akan datang pada waktunya.

Comments